Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap)
Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap)

√ Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap)

Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap) – Jika mendengar istilah khiyar pasti yang terbenak dalam hati kita adalah tentang jual beli. Khiyar berkaitan dengan jual beli yakni salah satu bagian terpenting dalam jual beli untuk memberikan suatu kebebasan, keadilan dan juga kemaslahatan bagi masing-masing pihak yang sedang melakukan transaksi. Nah pada kesempatan kali ini Pendidik akan memberikan penjelasan mengenai pengertian khiyar, macam macamnya dan juga dasar hukumnya. Untuk mengetahuinya langsung saja kita simak penjelasannya sebagai berikut:

Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap)

Berikut ini merupakan pengertian khiyar.

Pengertian Khiyar

Secara bahasa “khiyar” berarti pilihan. Sedangkan menurut istilah khiyar adalah hak pilih bagi salah satu atau kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli untuk melangsungkan atau membatalkan transaksi yang telah disepakati, yang disebabkan oleh hal-hal tertentu yang membuat diantara kedua belah pihak melakukan pilihan tersebut.

Arti lain dari khiyar adalah suatu hak untuk menentukan antara meneruskan akad jual beli atau tidak diteruskan (ditarik kembali tidak jadi jual beli). Khiyar adalah meminta yang terbaik dari dua pilihan yakni melanjutkan atau membatalkan transaksi jual-beli.

Menurut ulama fiqih, khiyar dibolehkan dalam syariat Islam di dasarkan pada suatu kebutuhan yang mendesak dengan cara mempertimbangkan kemaslahatan bagi masing-masing pihak yang melakukan sebuah transaksi.

Macam – Macam Khiyar

Ada beberapa macam macam khiyar dalam jual beli yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pihak yang melakukan jual beli. Berikut adalah penjelasannya:

1. Khiyar Majlis

Khiyar majlis merupakan suatu hak yang dimiliki oleh penjual dan pembeli untuk meneruskan transaksi atau membatalkan transaksi tersebut selama dari kedua belah pihak tersebut masih dalam majlis jual beli.

Sehingga selama masih di majlis atau pembeli dan penjual belum terpisah, maka keduanya boleh melakukan transaksi atau membatalkannya. Akan tetapi, jika keduanya telah berpisah, maka baik penjual maupun pembeli tidak dapat membatalkan perjanjian jual beli tersebut. Dan pembeli juga tidak dapat meminta uangnya kembali meskipun telah mengembalikan barangnya.

Pada umumnya khiyar seperti ini hanya berlaku dalam transaksi yang bersifat mengikat kedua belah pihak yang melaksanakan transaksi yakni seperti transaksi jual beli dan sewa menyewa.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya: “Apabila dua orang melakukan akad jual beli, maka masing-masing pihak mempunyai hak pilih, selama keduanya belum berpisah badan/tempat…” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar).

Kemudian dari Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hakim dan Hizam bahwa Rasulullah Saw. bersabda,

البيعا ن با الخيا ر ما لم يتفر قا أ و قا ل حتي يتفر قا فإ ن صد قا و بينا بو ر ك لهما في بيعهما و إ ن كتما و كذ با محقت بر كة بيعهما.

Artinya : “Kedua penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar selama belum berpisah. Jika keduanya berbuat benar dan menjelaskan dengan benar, keduanya mendapatkan keberkahan dalam transaksi mereka. Jika mereka menyembunyikannya dan berkata dusta, maka Allah akan mencabut keberkahan jual-beli mereka.”

Perbedaan pendapat para ulama tentang khiyar majlis adalah sebagai berikut:

a. Madzhab Syafi’i dan Hambali

Kedua madzhab ini berpendapat bahwa: masing-masing pihak yang telah melakukan akad berhak memiliki khiyar majlis selama mereka masih dalam majlis sekalipun akad telah sah dengan adanya ijab dan qabul. Maksudnya adalah bahwa penjual dan pembeli masih memiliki hak untuk dapat melangsungkan transaksi atau tidak karena keduanya masih dalam satu majllis yang sama atau belum berpisah tempat.

Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar yang sebelumnya sudah disebutkan di atas. Dan hadis dari Amr bin Syu’aib yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa’i, Daruquthni, dan Ibnu Khuzaimah.

b. Hanafi dan Maliki

Kedua madzhab ini berpendapat bahwa: akad telah sempurna dengan ijab dan qabul, sehingga jika akad dengan ijab qabul telah terlaksana maka tidak ada hak majlis lagi bagi keduanya. Maksudnya adalah kedua belah pihak baik penjual dan juga pembeli tidak memiliki peluang lagi untuk membatalkan transaksi tersebut.

Hal ini didasarkan pada Firman Allah SWT Q.S An-Nisa ayat 29. yang artinya: “…kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu….”  Kemudian Menurut mereka, hadis tentang khiyar majlis tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan firman Allah dalam surat al-Ma’idah ayat 1 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu…”.

Kapan Khiyar Majlis Tidak Berlaku

Khiyar majlis tidak berlaku saat kedua belah pihak penjual dan pembeli menggugurkan setelah akad. Atau salah satu dari mereka meninggal dunia.

2. Khiyar ‘Aibi

Khiyar ‘aibi merupakan suatu hak untuk membatalkan atau melangsungkan jual beli bagi kedua belah pihak yang telah melakukan akad apabila terdapat suatu cacat pada objek yang diperjualbelikan dan catat tersebut tidak diketahui oleh pemiliknya ketika akad berlangsung.

Seperti contoh penjual dan pembeli melakukan transaksi membeli 3 kg semangka, namun ada beberapa semangka yang busuk tanpa diketahui oleh penjual maupun oleh pembelinya. Pada kasus seperti ini maka menurut para ulama fiqih telah ditetapkan hak khiyar bagi pembeli. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

المسلم أ خو المسلم و لا يحل لمسلم با ع من أ خيه بيعا فيه عيب إ لا بينه له

Artinya: “Sesama muslim adalah bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang memiliki aib kepada saudaranya, kecuali apabil ia menjelaskan aib tersebut kepada sudaranya.” ( HR. Ahmad, Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim dan Thabrani).

Untuk khiyar ‘aibi ini memiliki syarat-syarat ketentuannya agar dapat berlaku, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Pembeli tidak mengetahui adanya cacat pada barang ketika berlangsungnya akad. Jika sejak awal sudah mengetahui adanya cacat maka khiyar ‘aibi tidak berlaku.

b. Pada saat akad berlangsung, penjual tidak memberi syarat jika ada barang cacat maka tidak dapat dikembalikan. Artinya sudah ada kesepakatan dari pembeli tentang adanya cacat yang akan dibeli. Jika penjual telah mensyaratkan maka khiyar ‘aibi sudah tidak berlaku.

c. Cacat tidak hilang sampai dilakukan pembatalan akad.

Khiyar ‘aibi dapat terhalang dalam pengembalian barang apabila:

  • Pemilik hak khiyar rela dengan cacat yang ada pada barang tersebut
  • Hak khiyar digugurkan oleh pemiliknya.
  • Benda yang menjadi obyek hilang atau muncul cacat baru akibat perbuatan pemilik hak khiyar.

3. Khiyar Syarat

Khiyar syarat merupakan khiyar yang disyaratkan oleh salah satu pihak (penjual dan pembeli) setelah akad, selama masa yang sudah ditentukan meskipun sangat lama. Apabiloa kedua belah pihak berkehendak maka keduanya dapat melakukan transaksi atau membatalkannya selama waktu yang ditentukan tersebut, khiyar ini boleh disyaratkan oleh kedua belah pihak yang bertransaksi secara bersamaan.

Arti lain dari khiyar syarat adalah hak pilih yang telah ditentukan bagi salah satu pihak yang berakad atau keduanya untuk meneruskan atau membatalkan jual beli, selama tenggang waktu yang telah ditentukan.

Sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah Saw bersabda:

كل ا لبيعين لا بيع بينهما حتي يتفر قا إ لا بيع ا لخيا ر

Artinya : “Masing-masing penjual dan pembeli, belum terjadi jual-beli di antara keduanya sebelum mereka berpisah, kecuali jual-beli dengan khiyar.”

Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah Saw. Bersabda :

إ ذ تبا يع ا لر جلا ن فكل و ا حد منهما با لخيا ر ما لم يتفر قا و كا نا جميعا أ و يخير أ حد هما ا لا خر فتبا يعا علي ذ لك فقد و خب

Artinya : “Apabila dua orang bertransaksi jual-beli, setiap pihak dari keduanya boleh melakukan khiyar selama belum berpisah secara fisik. Keduanya melakukan khiyar atau satu dari keduanya menawarkan khiyar kepada yang lain, kemudian keduanya sepakat bertransaksi, mka jual-beli menjadi keharusan.”

4. Khiyar Ru’yah

Khiyar ru’yah merupakan suatu hak pilih bagi pembeli untuk tetap melangsungkan atau membatalkan jual beli yang dilakukan terhadap suatu objek yang belum dilihatnya ketika akad berlangsung.

Syarat berlakunya khiyar ru’yah adalah

  • Belum terlihat barang ketika akad berlangsung atau sebelum akad.
  • Barang yang diakadkan berupa barang konkrit seperti kendaraan, rumah dan lain sebagainya.
  • Akad jenis ini harus dari akad-akad yang tabiatnya dapat menerima pembatalan seperti jual beli dan ijarah.

Khiyar Ru’yah dapat berakhir apabila:

  • Pembeli telah merelakannya. Artinya saat barang tersebut ada maka pembeli setuju dengan barang itu.
  • Objek yang dijual belikan hilang.

5. Khiyar Naqdi

Khiyar naqdi merupakan hak khiyar untuk memberikan kesempatan dalam pembatalan jual beli untuk suatu transaksi dengan pertukaran yang tidak langsung. Khiyar naqdi adalah hak untuk melanjutkan atau membatalkan jual beli, apabila pembeli belum melunasi pembayaran tersebut. Atau penjual belum menyerahkan barang, meskipun telah menerima pembayaran utuh dari pembeli.

Dasar Hukum Khiyar

Adapaun dasar hukum secara umum dari khiyar adalah sebagai berikut:

Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap)
Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap)

* وعن ابن عمر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا تبايع الرجلان، فكل واحد منهما بالخيار مالم يتفرقا آوكان جميعا، أويخير أحدهما الآخر، فإن خير أحدهما الآ فتبا يعا على ذلك فقد وجب البيع، وإن تفرقا بعد أن تبايعا ولم يترك واحد منها البيع فقد وجب البيع. متفق عليه، واللفظ لمسلم.

Artinya: ” Dari Ibnu Umar Ra, dari Rasulullah Saw bersabda, “Apabila dua orang melakukan jual beli, maka masing-masing dari keduanya mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan atau meneruskan jual beli) selama mereka belum berpisah atau masih bersama; atau jika salah seorang di antara keduanya menentukan khiyar kepada yang lainnya. Jika salah seorang menentukan khiyar pada yang lain, lalu mereka berjual beli atas dasar itu, maka jadilah jual beli itu. Jika mereka berpisah setelah melakukan jual beli dan masing-masing dari keduanya tidak mengurungkan jual beli, maka jadilah jual beli itu.” (Muttafaq Alaih, dan lafadz hadis ini menurut riwayat Muslim).

Demikianlah penjelasan mengenai Pengertian Khiyar, Macam, Syarat & Dasar Hukumnya (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Terimakasih 🙂